Ragam Reaksi Kebijakan Lucky Hakim Lepaskan Ribuan Ular ke Sawah untuk Berantas Tikus, Netizen: Lepasin ke DPR Saja Pak!

Bupati Indramayu Lucky Hakim membuat geger masyarakat luas. Ide kebijakan melepaskan ular ke sawah untuk memburu tikus mengundang ragam reaksi.

Redaksi PIQIR Oleh Redaksi PIQIR
4 Menit Membaca
Bupati Indramayu Lucky Hakim saat menghadiri kirab budaya Jawa Barat. (Instagram @mata_aadeni

Namun ada pula masyarakat yang justru mendukung kebijakan Bupati Lucky. Seperti yang ditulis oleh @lue_wan80

“Yang komen kebanyakan bukan petani, tapi pura-pura jadi petani. Petani militan ketawa liat komen kalian,” ujarnya sambil menyisipkan emoji tertawa.

“Ular pemakan hama ga bahaya sih untuk petani. Kalau di China pake kepiting, tapi kalo kepiting bukan petani yang manen tapi tetangga wkwk, kalau ular kan ga ada yang berani,” bela @palekmiun.

Apresiasi juga turut diberikan oleh @sdnsumur02 “Rantai makanan,” sambil bertepuk tangan melalui emotikon.

Namun ada hal yang menarik dari ramainya pro-kontra terkait kebijakan ini. Beberapa netizen justru mempunyai ide yang cukup disukai khalayak. Seperti yang disentil oleh akun @conanosoka

“Kalau hama tikus di gedung besar gimana pak? Apa perlu cobra? (Bertanya dengan nada soft spoken),” Komentar ini berhasil mencuri hati netizen lain dengan 202 akun yang menyukai.

Ada pula dari @ariifhdyt8 “Lepaskan di gedung DPR juga Pak!,” katanya. Seolah bersetuju, 989 akun menyukai komentar tersebut seakan-akan memberi dukungan atas satire ide untuk membasmi hama di Senayan.

Saran pelepasan ular di gedung DPR ini bukan tidak beralasan. Masyarakat cukup kesal dengan anggota dewan yang digaji oleh pajak hasil pungutan dari rakyat. Penyematan nama wakil rakyat kepada mereka seolah tidak cocok akibat ulah yang diperbuat.

Teranyar para anggota dewan berjoget bahagia di gedung sakral penuh kehormatan di tengah derita rakyat karena berbagai kebijakan yang cukup merugikan.

Di hari yang sama, mereka juga baru saja diumumkan akan menerima uang lebih banyak untuk tunjangan beras sebesar 12 juta dan rumah dinas 50 juta perbulan.

Padahal, rakyat masih banyak yang belum tentu makan dan tidak memiliki tempat tinggal. Wajar saja akhirnya muncul reaksi netizen yang menyamakan anggota dewan sebagai ‘tikus’ karena dianggap hama dalam sistem negara.

Bagikan Artikel Ini
Tinggalkan Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *